Di kuater ketiga ini ekonomi Jepang mengalami pertumbuhan secara tak terduga. Salah satu faktor pemicunya adalah meningkatnya angka pengeluaran masyarakat dan melambatnya laju eksport karena nilai Yen yang menguat. Berdasarkan laporan dari kantor cabinet di Tokyo, Gross Domestic Product Jepang selama 3 bulan terakhir hingga tanggal 30 September lalu mengalami kenaikan sebesar 3.9%. sedangkan GDP pada kuartal sebelumnya hanya sebesar 1.8%. Penjualan mobil hemat bahan bakar mengalami peningkatan menjelang berakhirnya program subsidi dari pemerintah. Menurut Menteri Perekonomian Jepang Banri Kaieda, pertumbuhan ekonomi kali ini lebih didongkrak oleh faktor “peningkatan sementara angka belanja konsumen”. Pengeluaran rumah tangga mengalami kenaikan hingga 1.1% dibanding kuartal sebelumnya. Secara keseluruhan Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 2.9%.
Naiknya nilai tukar Yen ke level tertinggi selama 15 tahun terakhir ini berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi kali ini. Beberapa perusahaan besar seperti Sharp Corp dan Nikon Corp bahkan memangkas proyeksi laba perusahaan. Menurut Susumu Kato sebagai salah satu kepala ekonom Jepang di Credit Agricole CIB dan CLSA, saat ini Jepang tidak boleh terlalu senang dengan kenaikan angka GDP karena akan ada tantangan yang lebih besar pada ekonomi kuartal keempat sebagai dampak dari memudarnya program insentif pemerintah dan nilai tukar Yen yang belum stabil.
Berdasarkan hasil prediksi dari 21 ahli ekonom disimpulkan bahwa GDP Jepang akan mengalami kenaikan hingga 2.5% pada kuartal mendatang. Selain itu, ekonomi negara matahari tersebut juga akan terus mengalami pertumbuhan pada bulan Oktober hingga Desember mendatang. Angka pertumbuhan ekonomi minimum yang diperkirakan adalah sebesar 0.3%.
Meskipun Jepang mengalami pertumbuhan yang cukup baik namun angka GDP-nya masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan Cina. Angka GDP Jepang di kuartal ini sebesar $1.372 trilliun sedangkan Cina telah mencapai $1.415 trilliun. Berdasarkan laporan pemerintah Jepang, negara tersebut masih merupakan negara ekonomi dunia terbesar kedua dalam periode Januari hingga September lalu dengan besar GDP mencapai $3.967 trilliun dan GDP Cina sebesar $3.947 trilliun.
Dengan berakhirnya program stimulus dari pemerintah dan semakin menguatnya nilai tukar Yen terhadap dolar mungkin akan memaksa bank sentral agar kembali melonggarkan program kredit dan menggencarkan program pembelian asset 5 trilliun Yen. Perlu diketahui, pada bulan sebelumnya bank sentral Jepang telah menurunkan suku bunga kredit hingga mencapai 0%. Junko Nishioka, ekonom pada RBS Securitas Tokyo menyatakan bahwa tren melemahnya nilai tukar dolar Amerika dan menguatnya Yen mungkin akan berlangsung selama beberapa waktu.
Bulan lalu Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengucurkan dana sebesar 5.1 trilliun Yen dalam rangka mendorong program paket stimulus dan mengembangkan program insentif pemerintah dengan membeli perabot rumah tangga yang hemat energi. Pada 1 November lalu, nilai tukar Yen naik pada posisi tertinggi sejak April 1995. Usaha intervensi yang dilakukan oleh pemerintah Jepang untuk membendung kenaikan Yen berakhir dengan kegagalan. Menguatnya mata uang dalam negri semakin memperparah kondisi deflasi dan mengakibatkan murahnya harga import.
Nikon Corp sebagai salah satu perusahaan pembuat kamera, lensa dan chip di Jepang telah memotong nilai laba dan perkiraan pendapatan pada 4 November lalu akibat menguatnya nilai Yen. Sharp Corp sebagai salah satu produsen kristal cair terbesar di Jepang juga ikut memangkas nilai laba perusahaan hingga 40% pada bulan lalu. Presiden Toyota Motor Corp Akio Toyoda juga mengatakan bahwa ia merasakan “krisis ekstrim” karena menguatnya nilai Yen. Laporan pemerintah juga menunjukkan terjadinya kemerosotan angka produksi oleh beberapa industri lebih dari dua kali lipat disbanding perkiraan ahli ekonom di bulan September dan ekspor sedikit meningkat tahun ini.
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.