Polemik Kebijakan Nilai Tukar Renminbi

Polemik Kebijakan Nilai Tukar Renminbi

Yuan China atau yang biasa disebut Renminbi (RMB) belakangan ini semakin disorot tajam. Beberapa negara besar, termasuk Amerika, menyerukan agar China segera melakukan apresiasi nilai Renminbi. Terlalu “murah”-nya nilai Renminbi dianggap mempengaruhi ekonomi global, terutama dalam hal perdagangan antar negara.  Apalagi, saat ini kedudukan China adalah sebagai negara eksportir terbesar di dunia, nilai ekspornya jauh lebih besar dari negara manapun.

Pada pertemuan Uni Eropa – China di Nanjing pekan lalu, perdana menteri Wen Jiabao menegaskan bahwa China akan menjaga nilai Renminbi tetap pada level yang sewajarnya. Menurutnya, tindakan ini sudah tepat bagi ekonomi China dan juga sangat membantu pemulihan ekonomi global. Selain itu, juga dipertanyakan sikap-sikap yang dinilai kurang adil terhadap China, menurut Wen Jiabao, negara-negara yang meminta China mengapresiasi mata uangnya juga melakukan proteksionisme perdagangan, yaitu membatasi kuota dan mengenakan aturan serta tarif tambahan untuk impor barang dari China.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat ini. Bagaimanapun yang terjadi, China masih menguasai ekspor karena sebagian besar barang-barang mereka dibutuhkan oleh negara lain, apalagi situasi ekonomi global tengah mengalami resesi. Tindakan proteksionisme negara-negara lain tampaknya tidak akan terlalu besar pengaruhnya terhadap China. Di sisi lain, nilai Renminbi saat ini yang bisa dibilang “undervalued” membuat barang-barang ekspor seolah mendapatkan subsidi, hal ini tentunya akan memicu negara importir untuk melakukan proteksionisme, kalau tidak maka pasar dan industri lokal akan kalah bersaing dengan produk-produk dari China. Dan sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar, pertumbuhan ekonomi tertinggi, serta ekspor terbesar, nilai mata uang China tidak mengalami penguatan yang setara, bahkan dalam 7 bulan terakhir cenderung stagnan. Nilai Renminbi bahkan relatif stabil semenjak 1998, sebelum ekonomi China maju pesat seperti saat ini. Setelah krisis global kali ini, beberapa negara besar seperti Jepang, Canada, dan Eropa, mengalami penguatan mata uang, tapi hal ini tidak terjadi pada China dan Yuan-nya.

Polemik Kebijakan Nilai Tukar Renminbi

Untuk saat ini, situasi ekonomi dunia masih baik-baik saja. Tapi jika kebijakan China ini tetap berlangsung hingga 10 tahun ke depan, maka keseimbangan ekonomi dunia akan terancam. Ambil contoh jika devisa dan GDP China terus bertambah dengan pesatnya hingga 10 tahun ke depan, maka jumlah kekayaan China tidak akan tertandingi, bahkan kemungkinan Amerika pun tidak mampu menyerap nominal tersebut. Negara-negara yang mengalami defisit, harus berhati-hati menerapkan kebijakan ekonomi dan perdagangannya, karena bisa-bisa mereka malah terjerumus ke dalam resesi lebih dalam. Jalan yang paling aman adalah meningkatkan ekspor, namun hal ini cenderung sulit terwujud, karena negara-negara surplus seperti China justru melebarkan sayap ekspor, bukan impor. Jadi, siapa yang membeli barang-barang dari negara yang defisit?

Tanpa koordinasi dan kerja sama antar negara, keseimbangan ekonomi global ke depannya akan sangat rawan dan sulit tercapai. Oleh karena itu, sebaiknya dunia mulai mempertimbangkan hal ini, sebelum terjadi depresi dan krisis ekonomi global yang lebih parah di kemudian hari.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment