Pertumbuhan China melambat sebagai dampak dari stimulus besar-besaran dan adanya ledakan kredit. Ekonomi China bertumbuh sebesar 10,3 persen pada kuartal kedua, lebih rendah dari kuartal pertama yaitu 11,9 persen. China kembali pulih dengan cepat dari penurunan ekonomi global, didukung oleh stimulus 4 triliun Yuan (586 Milyar Dolar) dan pinjaman bank. Namun para petinggi khawatir akan lonjakan harga perumahan dan kredit macet di bank-bank BUMN. Mereka telah membatasi pinjaman dan investasi, demikian pula permintaan impor bijih besi dan barang asing lainnya.
Juru bicara Biro Statistik, Sheng Laiyun, dalam sebuah konferensi pers mengatakan bahwa meskipun menurun, tetapi pertumbuhan bisa disebut baik dan masih di atas target pemerintah. Target resmi pertumbuhan Beijing tahun ini adalah 8 persen, yang seharusnya mudah untuk dicapai. Inflasi di bulan Juni bergeser menjadi 2,9 persen, berada di bawah target pemerintah sebesar 3 persen untuk tahun ini. Data juga menunjukkan penjualan ritel naik 18,2 persen pada tengah tahun pertama, tetapi pengeluaran pabrik-pabrik dan aktiva tetap lainnya melonjak sebesar 25 persen. Meskipun memiliki awal yang baik, tetapi China masih harus sangat menyadari situasi volatil di luar Negara tersebut, banyak kesulitan dan tantangan yang dihadapi di negara ini.
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.