Departemen Keuangan AS, di awal pekan, menyatakan bahwa mereka akan menjual sahamnya di Citigroup tahun ini, dimana penjualan saham tersebut bisa jadi merupakan penjualan saham terbesar sepanjang sejarah. Pemerintah AS memiliki sekitar 27% saham di perusahaan tersebut dan nilainya sekitar 32 milyar Dollar Amerika pada pasaran hari ini. Pernyataan tersebut muncul seiring dengan keinginan Washington untuk menarik kembali 700 milyar USD yang dipinjamkan untuk mencegah lumpuhnya sistem perekonomian global 2008.
Ketika krisis, pemerintah AS mengucurkan dana sebesar 45 miliar dolar kepada Citi yang merupakan salah satu bank terbesar. Ketika itu, perusahaan-perusahaan di New York harus menghadapi kerugian besar-besaran akibat krisis global yang melanda seluruh dunia. Meskipun Citi membayar kembali 20 miliar dolar kepada otoritas di bulan Desember, Citi masih menjadi salah satu bank yang menjadi pertimbangan untuk di bailout. Menurut Treasury Secretary Timothy Geithner, langkah penjualan saham ini merupakan tahap selanjutnya untuk keluar dari krisis keuangan secepat mungkin.
Selama tahun 2009, total seluruh bank menderita kerugian hingga 1.6 miliar dolar. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan kerugian yang terjadi tahun 2008 yang mencapai 27.6 miliar dolar. Akan tetapi saham Citi mengalami penguatan beberapa bulan terakhir karena Chief Excecutive Vikram Pandit yang terus berusaha melakukan reformasi terhadap keseimbangan perusahaan dan pemangkasan biaya. Pandit berusaha melakukan perampingan perusahaan dan lebih fokus pada strategi bisnis dan manajemen resiko yang berhasil memangkas biaya 13 milyar dolar per tahun.
Saat ini pemerintah mampu meraih keuntungan bersih hingga 8 milyar dolar dari penjualan saham tersebut jika harga sahamnya terus menguat. Menurut para analis, jual beli saham Citi dalam jumlah besar setiap hari akan membantu pemerintah melunasi utangnya.
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.