Presiden Barack Obama mengatakan pada hari Minggu, bahwa Amerika Serikat mengharapkan nilai mata uang Cina meningkat secara signifikan. Beliau akan terus memantau selama beberapa bulan berikutnya bagaimana China berjanji untuk meningkatkan fleksibilitas yang lebih dalam pengelolaan mata uang Yuan. Komentar Obama terhadap negara-negara berkembang dan industri pada pertemuan G20 ditujukan bagi Presiden Cina Hu Jintao dengan mengkritik kebijakan mata uang Beijing dan sekaligus sebagai peringatan bahwa fluktuasi nilai tukarnya dapat mengancam pasar keuangan dunia. Nilai Yuan, atau renminbi (RMB), adalah sebuah gangguan utama dalam hubungan China dengan Amerika Serikat.
Sebelum G-20, China mencoba untuk mencegah kritik dengan mengumumkan bahwa akan mulai mengapresiasi mata uangnya untuk naik terhadap dolar AS. Namun para pejabat senior China telah menyatakan bahwa mereka tidak akan tunduk terhadap tekanan luar untuk memungkinkan Yuan naik lebih cepat. Obama mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak mengharapkan lompatan besar langsung dalam nilai Yuan, yang karena akan mengganggu ekonomi China sendiri, dan ekonomi dunia tentunya.
Dalam pidato sebelumnya Minggu, Hu tidak secara langsung menjawab keluhan tentang nilai yuan. Namun dia memperingatkan dengan serius risiko ekonomi global sebagai akibat nilai tukar mata uang Yuan yang berfluktuasi secara drastis dan pasar keuangan internasional bisa menderita volatilitas yang kuat. Pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa pada pertemuan hari Sabtu antara Obama dan Hu, disebut sebagai langkah “pertama” pengumuman fleksbilitas mata uang China. Tapi Obama menekankan bahwa pelaksanaan keputusan tersebut oleh China lah yang akan menjadi hal terpenting.
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.