World Economic Forum yang berlangsung di Davos, Switzerland tampaknya membahas banyak hal, terutama perihal krisis global dan strategi untuk segera memulihkan ekonomi dari resesi. Namun ada satu hal yang tampaknya menjadi topik serius pada Forum tersebut, yaitu pembentukan Group of Two atau G-2 antara Amerika Serikat dan China.
Para petinggi ekonomi dari banyak negara mulai mendiskusikan mengenai kemungkinan ini, alasannya adalah Amerika Serikat dan China merupakan dua negara dengan ekonomi terkuat di muka bumi ini, dan mereka tentu akan sangat berperan dalam upaya pemulihan ekonomi dunia paska krisis global ini. Namun, banyak kendala untuk mempersatukan kedua negara ini, masing-masing negara, baik Amerika maupun China mempunyai ketertarikan dan cara sendiri-sendiri untuk mengatasi krisis global ini. Selain itu, keduanya juga mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap negara-negara lain serta memiliki pandangan politik dan diplomatik yang berbeda, bahkan bisa dibilang sangat berbeda.
Pandangan menarik disampaikan oleh Fred Bergsten, pimpinan Peterson Institure for International Economics Washington. Menurutnya, kerjasama G-2 akan berperan sebagai pengemudi ekonomi global, yang akan memfasilitasi institusi lain, termasuk pakta G-20 dan WTO (World Trade Organization). Namun ia juga menambahkan, semuanya bergantung pada kedua negara, apakah mereka bersedia untuk bekerjasama atau tidak. Pesimisme memang ada, mengingat China menolak tawaran serupa saat Presiden Amerika, Barrack Obama, mengunjungi Beijing pada November 2009 silam.
David Shambaugh, salah satu pengamat ekonomi China di Universitas George Washington, mencoba menganalisa alasan penolakan tersebut. Menurutnya, China hingga saat ini masih lebih memilih menempatkan diri sebagai negara berkembang, kendati ekonomi mereka sudah merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Selain itu, China juga tidak menginginkan posisi seperti Amerika, sebagai penguasa ekonomi, karena jika terjadi sesuatu seperti krisis global ini contohnya, maka negara-negara lain akan melimpahkan tanggung jawab kepada si “superpower”. China tampaknya tidak ingin mendapat tekanan dan kritik seperti yang terjadi pada Amerika saat krisis terjadi pada akhir 2008 lalu.
Namun, beberapa pengamat juga memperingatkan China, dengan GDP yang terus meningkat, bahkan diprediksi melampaui Amerika Serikat dalam 17 tahun mendatang, maka mereka perlahan-lahan akan menanggung ekonomi dunia. Sebagai salah satu “superpower” ekonomi dunia, tentu apa saja yang mereka lakukan, akan berpengaruh terhadap ekonomi negara lain di dunia, salah satunya kebijakan menekan nilai Yuan, suatu hari diperkirakan berpotensi memicu protes dari negara lain, dan akan mempengaruhi ekspor impor dunia.
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.